Menristekdikti Minta PNS Dosen Kedokteran Tak Perlu S2

Jakarta: Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) menyayangkan sepinya peminat untuk dosen pendidikan kedokteran dalam seleksi calon pegawai negeri sipil (CPNS) 2018. Salah satu kendalanya, karena berat persyaratan strata pendidikan S2 yang harus dipenuhi. 

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir telah mengajukan usulan perubahan syarat S2 CPNS untuk formasi dosen pendidikan kedokteran kepada Menpan RB dan Badan Kepegawaian Negara (BKN).  Lamanya durasi pendidikan kedokteran menjadi salah satu faktor sepinya peminat CPNS untuk lowongan tersebut.

“Untuk dokter gigi, dokter umum, saya kira butuh S1 saja cukup. Setelah masuk, maksimum dua tahun baru dosen tersebut mulai kuliah lagi,” kata Nasir usai menghadiri acara peresmian dan Grand Launching AISITS, di Jalan Batu Ceper, Gambir, Jakarta, Rabu 17 Oktober 2018.

Baca: Menristekdikti Mengisyaratkan Moratorium di Sejumlah Prodi LPTK

Mantan Rektor Terpilih Universitas Diponegoro Semarang ini meminta, Badan Kepegawaian Negara (BKN) dan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi mengubah aturan ini. Namun sayangnya, ketika usulan ini diajukan, kemudian Permenpan RB tentang Seleksi CPNS 2018 sudah kadung diterbitkan.

“Sejak awal sudah saya monitor. Tapi karena sudah terlanjur keluar itu pengumumannya harus S2, jadi banyak yang tidak melamar. Karena kalau sudah melamar di tempat lain dia tidak bisa pindah,” terang Nasir.

Nasir menjelaskan untuk mencapai pendidikan kedokteran S1 saja butuh waktu empat tahun. Ditambah lagi masa koas dua tahun, lalu Internship satu tahun.

“Kalau kuliah di Teknik empat tahun selesai. Kuliah dua tahun sudah dapat S2. Sudah bisa melamar jadi dosen.  Sementara dokter kalau mau jadi dosen itu 7 tahun. Kalau S2, itu jadi 9 tahun. Ngapain saya (para dokter) daftar di CPNS ini. Mending saya cari pekerjaan lain,” tandasnya.

(CEU)